Kisah Guru Sekumpul dan Wali Allah yang Menyamar di Tempat Perjudian

Kisah Guru Sekumpul dan Wali Allah yang Menyamar di Tempat Perjudian
Abah Guru Sekumpul/Ist

KOPICURUP.ID
- Kisah seorang Sayyid yang setiap harinya duduk-duduk di tempat perjudian. Tidak ada orang kampung yang tahu siapa dia sesungguhnya. Hingga suatu ketika, ajal datang menjemputnya. Pada saat itu, tak ada satu orang pun tetangga dia yang datang, tidak ada tetangga yang mau memandikan, mengkafankan dan menyolatkan jenazah beliau. Hanya ada istri dan anaknya sajalah yang menghadapi jenazah tersebut.

Melihat keadaan suaminya itu, sang istri lalu menangis sembari berdoa kepada Allah.

"Yaa Allah, bagaimana dengan jenazah Suamiku? Apakah aku buang ke Sungai Mahakam, atau aku biarkan sampai membusuk? Engkau yang Maha Luas Rahmat-Mu. Berilah petunjuk,"

Tiba-tiba, masuk seorang tampan tinggi rupawan.

“Assalamu'alaikum Yaa Syarifah."

Tampak puluhan orang berjubah dan bersorban mengiringi di belakangnya.

“Wa'alaikumsalam Warohmatullah ...”

Saat melihat sang Guru, Si Syarifah tersentak kaget bukan main, yang datang adalah Al-Imam Al-Quthubul Akwan Assyeikh Muhammad Zaini bin Abdul Ghoni Sekumpul.

“Kapan Pian ke sini Guru, Kaltim dan Kalsel sangatlah jauh, apalagi kami di daerah Hulu Mahakam Kembang Janggut ini?" tanya Syarifah.

“Allah yang Memudahkan,” jawab sang Guru.

Tiba-tiba, dari luar banyak orang kampung datang dan terperanjat. Karena mereka tahu kalau yang datang adalah Guru Sekumpul. Maka mereka keheranan dan salah satu dari penduduk berkata.

“Wahai guru, ini adalah orang yang senang berjudi, tiap hari duduk-duduk di tempat perjudian.”

Guru Sekumpul tersenyum dan berkata.

“Apakah kamu melihat beliau sendiri main judi atau beliau cuma duduk-duduk saja di situ tanpa main judi.”

“Beliau ini yang tiap hari kalian lihat di tempat perjudian adalah seorang dzuriyat (keturunan) Rasulullah SAW. Beliau ini yang jadi penyandang bala (bencana) di kampung sini. Beliau ini yang setiap malam pada saat kalian tidur beliau bangun dan sholat tahajud mendo'akan kalian. Beliau juga yang rela setiap hari duduk di tempat perjudian berdzikir dan memohon ampun untuk para penjudi agar mereka sadar, tapi kalian tidak tahu kalian cuma melihat dengan pandangan dzohir saja, beliau tidak terkenal dalam pandangan masyarakat bumi tapi sangat terkenal di langit.”

Maka para penduduk menjerit dan menangis, yang biasa berjudi langsung sujud dan memohon ampun kepada Allah. Lalu jenazah beliau dimandikan, dikafani dan disholatkan lalu diantar ke pemakaman.

Hujan pun turun dengan derasnya usai pemakaman.

“Jangan lagi kalian berkelakuan seperti itu, biar bagaimanapun dzahirnya kalau sudah wafat harus sama sangka baik dengan makhluqnya Allah SWT. Dan hati-hati, kalau itu dzurriyah Sayyidil Wujud SAW. Kalau tadi tetap dibiarkan seperti itu, sampai Syarifah itu sakit hati. Tenggelam nanti desa kalian ini. Murka Rasulullah SAW, murka juga Allah SWT.”

Setelah itu, Abah Guru Sekumpul beserta rombongan pamit pulang naik kapal. Tapi ada yang aneh, kapal yang ditumpangi Abah Guru Sekumpul beserta rombongan itu tidak ada di Kaltim.

“Sepertinya itu Kapal Alam Jabbarut,” kata Habib Husein Alaydrus, Singa Mahakam.
(Sumber: Habib Abdillah al-aydrus عبدالله العيدروس, Mahakam)

Semoga artikel Guru Sekumpul dan Kisah Wali Allah yang dikutip dari bangkitmedia.com ini memberikan manfaat dan barokah untuk kita semua, aamiin..

Lebih baru Lebih lama