"Setan Morfin" Kalahkan Jamrud dan Boomerang


KUPASAN,NET
- ERA 90’an, Th ree Brothers tampil sebagai salah satu grup musik rock papan atas Indonesia. Hits berjudul Setan Morfi n menggetarkan panggung musik rock nasional yang digelar Log Zhelebour. Setelah puluhan tahun berlalu sejak masa kejayaan itu, kini generasi muda Curup ingin kembali membangkitkan “aura” sang Setan Morfin ke panggung musik rock Bengkulu.

Tahun 1987, berdirilah sebuah band beraliran rock di kota kecil nan dingin, Curup. Band tersebut diberi nama Three Brothers. Dengan personel yang masih memiliki ikatan keluarga. Terdiri dari Edy Rusli (Bass), Welly Rusli (Drum), Ewan Rusli (Malody), Dudi Rusli (Keyboard) dan Alm Tatang Riki (Vokalis).

Nama terakhir telah meninggal dunia sejak beberapa tahun lalu. Namun sebelum itu sebenarnya Alm. Tatang juga telah keluar dari Three Brothers dan posisinya digantikan oleh Andi Lala.

Saat ditemui dikediamannya yang sederhana di Kelurahan Talang Rimbo Baru, Air Sengak, Curup, Welly Rusli menceritakan pengalamannya bersama Three Brothers mulai masih merintis hingga mencapai puncak kejayaan hingga kemudian meredup dan tinggal sebuah nama.

Duduk lesehan di karpet rumahnya, Welly mulai mengisahkan masa-masa saat pertama band ini berdiri. Menurut Welly, Three Brothers mengawali perjalanan musik dari panggung ke panggung di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel).

Hingga pada suatu saat, mereka mencoba peruntungan dengan mengikuti festival musik rock di kota pempek, Palembang pada tahun 1988. Di sana Three Brothers berhasil meraih juara I dan mewakili Sumbagsel ke tingkat nasional. Mereka dikirim ke kota pahlawan, Surabaya untuk mengikuti festival musik rock pada tahun 1991 yang diselenggarakan oleh promotor Log Zhelebour.

Festival yang sponsori oleh Gudang Garam dan dilaksanakan di dua kota yaitu untuk Semi final diadakan di Malang dan untuk Final diadakan di Surabaya itu juara pertama diraih oleh group band Kaisar dari Kota Solo. Three Brothers sendiri keluar sebagai runner up. Sedangkan 10 besar atau finalis dalam festival ini yakni Cassanova, Pythagoras, Valhalla, Sahara, New Chordhex's, Ertebe, Balance dan Whizzikid. Oleh promotor penyelenggara Log Zhelebour, para pemenang ini diracik dalam sebuah album kompilasi bertajuk 10 Finalis Festival Rock Se-Indonesia Ke-6.

Saat itu Three Brothers membawakan lagu mereka sendiri dengan judul Setan Morfin yang sangat booming kala itu. Bahkan banyak orang yang berusaha mencari lagu itu untuk sekedar mendengarkan karena sudah menjadi buah bibir di masyarakat, khususnya masayrakat Sumbagsel. Sejak saat itu nama Three Brothers melejit dan menjadi bintang baru dalam belantika musik rock tanah air.

"Saya tidak nyangka banget bisa jadi runner up, karen kami kan dari daerah. Bahkan lebih bangganya lagi, waktu itu ada group band namanya Jamrod dan Los Angels yang tidak masuk 10 besar. Padahal itulah band yang sekarang bernama Jamrud dan Boomerang, dulu bisa kita kalahkan tapi sekarang berbeda nasib," katanya sambil tertawa renyah.

Kembali ke Three Brothers, saat masa kejayaan itu, mereka mengikuti ajang serupa baik Log Zhelebour yang disponsori oleh Gudang Garam maupun  Djarum yakni mulai dari tahun 1991, 1993, 1996 dan terakhir ambil bagian pada tahun 2004 di Kota Surabaya.

Setiap tampil, mereka selalu rutin menempati posisi 10 besar band terbaik atau sebagai finalis. Bahkan beberapa personelnya kerap mendapatkan penghargaan individu seperti bass terbaik, gitaris terbaik, drummer terbaik atau vokalis terbaik dalam festival bergengsi tingkat nasional itu.

Suatu waktu, sebanyak 60 group band beraliran musik rock dalam sebuah festival musik di Bandar Lampung juga berhasil ditaklukkannya. Hingga kemudian, seorang pengusaha sukses asal Lampung menawarkan kepada personil Three Brothers untuk mengambil alih pengelolaan group band ini.

"Kita ditawari uang banyak, rumah untuk tinggal dan kita hanya diminta mengisi acara sekitar 5 hari dalam sebulan. Kemudian ikut festival yang semua biaya ditanggung oleh pengusaha itu. Tapi syaratnya tidak boleh lagi membawa nama Bengkulu atau Curup, tapi harus Lampung. Karena kecintaan kami dengan daerah kami menolaknya," ungkapnya. 

KISAH sukses grup band rock Three Brothers menembus level nasional tidak semudah membalikan telapak tangan. Mereka harus melalui perjuangan yang berat, dimulai dari menapaki “tangga terbawah” hingga ke puncak kejayaan. Berikut lanjutannya.

Setelah menjuarai festival musik rock se-Sumbagsel dan mencoba menjajal ajang yang lebih tinggi lagi yakni Festival Rock Indonesia ke 6 yang digelar Log Zhelebour pada tahun 1991, tantangan yang dihadapi personel Three Brothers semakin berat. Mereka bukan hanya harus menghadapi lawan-lawan grup band rock dari seluruh Indonesia yang rata-rata memiliki kualitas mumpuni, tapi juga harus menghadapi serangan secara gaib.

Ya, menurut pengakuan Welly saat final yang digelar di Surabaya, mereka pernah akan disantet orang. Tujuannya, supaya saat tampil di panggung mereka tidak konsentrasi lagi. Akan tetapi, berkat doa dan keyakinan, mereka bisa melalui semua itu. Bahkan bisa kembali berjaya pada festival-festival serupa di tahun-tahun berikutnya.

Dulu nama Three Brothers kerap menghiasi majalah nasional Indonesia sekelas majalah Hai. Bahkan mereka juga pernah diwawancarai dalam sebuah acara gosip sebuah televisi swasta nasional terkait prestasi mereka di ajang festival Log Zhelebour. Beberapa dokumen majalah itupun masih tersimpan rapi oleh Edy. Saat itu, Edy sebagai pemain bass masih berambut gondrong.

Tahun 2004 benar-benar menjadi akhir dari cerita indah dengan segudang prestasi yang dimiliki oleh putra daerah RL ini. Minimnya perhatian pemerintah akan prestasinya membuat band ini harus terseok-seok untuk bisa eksis. Personelnya bermimpi besar, berambisi untuk bisa rekaman hingga kemudian menolak untuk naik panggung lagi. Namun karena keterbatasan ekonomi, akhirnya band ini kini tinggal nama. Kendati menurut Welly nama Three Brothers tetap ada namun tidak seeksis dulu.

Beberapa tahun lalu mereka membentuk Three Brothers Junior (TBJ) yang personelnya terdiri dari anak-anak personel Three Brothers. Tapi sayang, TBJ pun tidak bertahan lama karena personelnya sudah tidak lagi menetap di Curup. Bahkan anak dari Welly yang juga personel TBJ, Andrian Metal dan Lutfan Teguh mencari pengalaman di ibukota dengan menjadi pemain sinetron Cahaya Cinta.

Karena kevakuman Three Brothers itulah, kini personelnya mencari kesibukan lain. Welly ikut sebuah group musik di Kabupaten Musirawas, Puput Irama sebagai Drummer, Eddy Rusli sebagai teknisi alat-alat musik dan Dudi Rusli sebagai pemain keyboard panggilan serta membuka kursus organ tunggal. Di kediaman Welly Rusli juga menyediakan rental musik, Bougenville yang disewakan untuk umum.

"Alat-alat musik kami masih ada semua, memang usianya sudah tua tapi kualitasnya masih bagus. Kita melatih anak-anak kita untuk meneruskan jejak Three Brothers karena nama Three Brothers sudah paten milik kami dan sampai sekarang Three Brothers tetap ada, tidak hilang dari dunia musik," katanya dengan penuh semangat sambil pindah ke rumah Eddy.

Sayapun penasaran ingin mendengar secara langsung dentuman drum dan petikan bass dari Welly dan Edy, hingga kemudian mereka berdua membawakan lagu Setan Morfin dan terdengar bahwa alunan musik yang mereka bawakan masih sangat apik. Setelah itu, mereka berdua sibuk mencari majalah Hai dan juga beberapa foto kopi majalah yang pernah memuat Three Brothers dalam berita.

"Inilah kenangan kami waktu masih jaya, harapan kami ada perhatian pemerintah dalam perkembangan musik di Rejang Lebong. Karena meskipun potensinya ada kalau kurang perhatian pemerintah akan sulit untuk berkembang. Apalagi kita tinggal di kota kecil, jauh dari jangkauan para produser rekaman," curhat Eddy sambil membolak-balik majalan Hai edisi XVII tanggal 23 Februari tahun 2003.

Beberapa lagu-lagu populer milik Three Brothers yakni Setan Morfin (1991), Misteri Kehidupan (1993), Cakrawala (1996), Cita Bangsa (1996) dan Bara Emosi (2000). Tapi tenang, bagi anda penggemar Three Brothers atau yang ingin tahu bagaimana hentakan musik dari grup musik legendaris asal tanah Rejang ini.

أحدث أقدم